RSS

Pages

Teori Belajar

Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Bagi kebanyakan siswa, bahkan mahasiswa, belajar hanyalah sebatas menggarisbawahi buku pelajaran dengan stabillo sambil mendengarkan alunan musik. Atau, bila menghadapi ujian akhir semester esok hari, maka belajar adalah minum kopi sebanyak mungkin atau minum pil anti ngantuk dan menghabiskan sepanjang malam untuk berusaha menjejali otaknya dengan semua bahan ujian yang semestinya dipelajari selama satu semester. Oleh karena itu, SKS sering kali dipelesetkan menjadi “ Sistem Kebut Semalam.“

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.

Oleh karena itu, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya para guru. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal – hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.

  1. Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk menjawab keresahan akan arti belajar yang sebenarnya, sehingga tidak lagi terjadi kesalahan persepsi yang berkembang dalam masyarakat khususnya peserta didik. Makalah ini juga akan dijelaskan faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi proses belajar dan pengaruh motivasi dalam belajar.

Pembahasan

Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata – mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta – fakta yang tersaji dalam bentuk informasi ( materi pelajaran ). Orang yang beranggapan demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika mereka telah mampu menyebutkan kembali secara lisan materi yang diajarkan oleh guru. Jika konsep ini digunakan, maka akan menjadikan diri seseorang itu ibarat botol kosong. Di sini dapat dibayangkan bahwa informasi yang dapat masuk hanya sebatas daya tampungnya saja.

Di sisi lain ada yang beranggapan bahwa belajar adalah proses yang terjadi dalam otak manusia. Saraf dan sel – sel otak yang bekerja mengumpulkan semua yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan lainnya, lantas disusun oleh otak sebagai hasil belajar. Itulah yang menyebabkan orang tidak bisa belajar jika fungsi otaknya terganggu.

Kalau kita bertanya kepada orang tentang pengertian belajar, maka akan diperoleh jawaban yang bermacam – macam. Perbedaan pendapat orang tentang arti belajar itu disebabkan karena adanya kenyataan bahwa perbuatan belajar itu sendiri bermacam – macam. Dengan kenyataan ini, terdapat banyak definisi tentang belajar.

Belajar secara sederhana dikaitkan sebagai proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu yang terjadi dalam jangka waktu tertentu. Perubahan yang terjadi harus secara relative bersifat menetap ( permanen ) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang saat ini nampak ( immediate behavior ) tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi di masa mendatang ( potensial behavior ). Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa perubahan – perubahan tersebut terjadi karena pengalaman. Jadi, belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif tetap sebagai hasil adanya pengalaman. Di sini tidak termasuk perubahan perilaku yang diakibatkan oleh kerusakan atau cacat fisik, penyakit, obat – obatan , atau perubahan karena proses pematangan.

Pengertian belajar memang selalu berkaitan dengan perubahan, baik yang meliputi keseluruhan tingkah laku individu maupun yang hanya terjadi pada beberapa aspek dari kepribadian individu. Perubahan ini dengan sendirinya dialami tiap – tiap manusia dan hanya sekali sejak dilahirkan. Sejak saat itu, terjadi perubahan – perubahan dalam arti perkembangan melalui fase – fasenya. Dan karena itu pula sejak saat itu berlangsung proses – proses belajar.

Belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Belajar membantu manusia menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungannya. Dengan adanya proses belajar inilah manusia bertahan hidup ( survived ).

Belajar dan berfikir merupakan dua proses yang tidak dapat dipisahkan. Meskipun demikian, keduanya merupakan proses – proses yang berbeda. Belajar adalah suatu proses – proses yang berbeda. Belajar adalah suatu proses terjadinya perubahan perilaku, tetapi berfikir tidak selalu menghasilkan perubahan tingkah laku.

Berpikir merupakan suatu proses mental yang tidak kasat mata. Proses ini hanya dapat diamati dari perilaku yang nampak. Dengan kata lain proses berfikir hanya dapat disimpulkan dari perilaku yang diperkirakan diarahkan oleh pikiran sebagai perilaku yang terorganisasi, bukan perilaku yang terjadi secara sembarangan. Berfikir tidak selalu memecahkan masalah, tetapi juga untuk membentuk suatu konsep tertentu, atau menimbulkan ide – ide kreatif. Bila pengertian – pengertian yang diperoleh dari proses berfikir dapat mengakibetkan perubahan perilaku yang permanen, maka proses berfikir tersebut menimbulkan proses belajar.

Belajar berbeda dengan menghafal. Menghafal hanya merupakan sebagian dari kegiatan belajar secara keseluruhan. Persamaan keduanya yaitu menyebabkan perubahan dalam diri individu. Dalam menghafal, aspek perubahannya terbatas dalam kemampuan menyimpan dan memproduksikan tanggapan. Adapun dalam belajar, perubahan itu tidak saja dalam hal kemampuan tersebut, namun juga meliputi perubahan tingkah laku lainnya, seperti sikap, pengertian, skills, dan sebagainya. Dengan demikian, belajar akan berhasil dengan baik jika disertai kemampuan menghafal.

Belajar adalah key term ( istilah kunci ) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan. Untuk mencapai hasil belajar yang ideal, kemampuan para pendidik ( guru ) dalam membimbing belajar muridnya amat dituntut. Jika guru dalam keadaan siap dan memiliki profesiensi ( kemampuan tinggi ) dalam menunaikan kewajibannya, harapan tercipta sumber daya manusia yang berkualitas sudah barang tentu akan tercapai.

Dalam belajar, kerap kali kita jumpai hal –hal yang mengganggu dan mendukung proses belajar. Gangguan dan dukungan ini akan mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Untuk itu, kita wajib mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi belajar agar cita – cita pendidikan dapat tercapai. Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi belajar, dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu :

  1. Faktor – faktor stimuli belajar
  2. Faktor – faktor metode belajar
  3. Faktor – faktor individual

Faktor stimuli belajar yang dimaksud adalah segala hal di luar individu yang merangsang individu itu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar. Stimuli dalam hal ini mencakup materiil, penegasan, serta suasana lingkungan eksternal yang harus diterima atau dipelajari oleh si pelajar. Beberapa hal yang berhubungan dengan faktor stimuli adalah panjangnya bahan pelajaran, kesulitan bahan pelajaran, berartinya bahan pelajaran, berat ringannya tugas, dan suasana lingkungan eksternal.

Panjangnya bahan pelajaran berhubungan dengan jumlah bahan pelajaran. Semakin panjang bahan pelajaran, semakin panjang pula waktu yang diperlukan oleh individu untuk mempelajarinya. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan dalam belajar dan kelelahan serta kejenuhan si pelajar dalam menghadapi atau mengerjakan bahan ajar yang terlalu banyak tersebut.

Kesulitan bahan pelajaran mempengaruhi kecepatan pelajar. Makin sulit suatu bahan pelajaran, makin lambat orang mempelajarinya. Sebaliknya, semakin mudah bahan pelajaran, makin cepatlah orang dalam mempelajarinya. Bahan yang sulit memerlukan aktivitas belajar yang lebih intensif, sedangkan bahan yang sederhana mengurangi intensitas belajar seseorang. Bahan yang berarti juga mempengaruhi belajar karena bahan yang berarti merupakan bahan yang dapat dikenali yang memungkinkan individu untuk belajar.

Berat ringannya tugas erat hubungannya dengan tingkat kemampuan individu. Tugas yang sama, kesukarannya berbeda bagi masing – masing individu. Hal ini disebabkan karena kapasitas intelektual serta pengalaman mereka tidak sama. Dapat pula berat ringannya suatu tugas berhubungan dengan usia individu. Ini berarti bahwa kematangan individu ikut menjadi indikator atas berat atau ringannya tugas bagi individu yang bersangkutan. Tugas – tugas yang terlalu ringan akan mengurangi tantangan belajar, sedangkan tugas – tugas yang terlalu berat membuat individu kapok ( jera ) untuk belajar.

Suasana lingkungan eksternal menyangkut banyak hal, antara lain cuaca, waktu, kondisi tempat ( kebersihan, ketenangan, kegaduhan ), penerangan ( berlampu, gelap, remang – remang ), dan sebagainya. Faktor – factor ini mempengaruhi sikap dan reaksi individu dalam aktivitas belajarnya, sebab individu yang belajar adalah interaksi dengan lingkunagnnya.

Metode mengajar yang digunakan oleh guru menimbulkan perbedaan yang berarti bagi proses belajar. Faktor – faktor metode belajar menyangkut beberapa hal diantaranya kegiatan berlatih atau praktek, overlearning dan drill, resitasi selama belajar, pengenalan tentang hasil belajar, belajar dengan keseluruhan dan dengan bagian – bagian, penggunaan modalitas indra, bimbingan dalam belajar, dan kondisi – kondisi insentif.

Berlatih dapat diberikan secara maraton ( non stop ) atau secara terdistribusi dengan selingan waktu istirahat. Latihan yang dilakukan secara maraton akan membosankan, sedangkan latihan yang terdistribuasi menjamin terpeliharanya stamina dan kegairahan belajar. Overlearning dan drill berguna untuk menetapkan reaksi dalam belajar. Overlearning digunakan bagi latihan keterampilan motorik sedangkan drill berlaku bagi kegiatan berlatih abstraksi misalnya berhitung. Faktor lain yang berhubungan dengan metode belajar adalah resitasi selama belajar yang cocok diterapkan pada belajar membaca atau hafalan. Kombinasi kegiatan membaca dengan resitasi sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menghafal bahan pelajaran.

Dalam proses belajar, individu sering mengabaikan tentang perkembangan hasil belajar selama ia belajar. Padahal, pengenalan seseorang terhadap hasil atau kemajuan belajarnya adalah penting, karena dengan mengetahui hasil – hasil yang sudah dicapai, seseorang akan lebih berusaha meningkatkan hasil belajar selanjutnya. Belajar yang dimulai dari keseluruhan ke bagian – bagian lebih menguntungkan dibandingkan dimulai dari bagian – bagian. Ini disebabkan dengan memulai dari keseluruhan, individu menemukan set yang tepat untuk belajar. Namun, metode ini mempunyai kelemahan yaitu membutuhkan banyak waktu dan pemikiran sebelum belajar yang sesungguhnya berlangsung.

Modalitas indra yang dipakai oleh masing – masing individu dalam belajar tidak sama. Sehubungan dengan itu, ada tiga impresi yang penting dalam belajar, yaitu oral, visual, dan kinestetik. Beberapa orang berhasil belajarnya dengan menekankan impresi oral. Dalam belajar, ia perlu membaca dan mengucapkan materi pelajaran dengan nyaring atau mendengarkan bacaan atau ucapan orang lain. Sementara ada beberapa orang belajar dengan menekankan impresi visual, dimana dalam belajarnya ia harus lebih banyak menggunakan fungsi indra penglihatan. Begitu pula ada beberapa orang yang belajar dengan menekankan pada impresi kinestetik dengan banyak menggunakan fungsi motorik. Di samping itu, ada pula yang belajar dengan menggunakan kombinasi impresi indra. Dengan modalitas indra inilah kita dapat menyesuaikan metode belajar yang sesuai dengan diri kita sehingga dapat diperoleh hasil belajar yang diharapkan.

Bimbingan dalam belajar yang diberikan kepada si pelajar dapat menimbulkan ketergantungan. Bimbingan dapat diberikan dalam batas – batas yang diperlukan oleh individu. Hal yang penting yaitu pemberian kecakapan pada individu sehingga yang bersangkutan dapat melaksanakan tugas – tugas yang dibebankan dengan sedikit saja bantuan dari pihak lain.

Dalam proses belajar, kondisi belajar yang insentif juga harus diperhatikan. Kondisi – kondisi insentif adalah objek atau situasi eksternal yang dapat memenuhi motif individu. Insentif adalah bukan tujuan melainkan alat untuk mencapai tujuan. Insentif dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu insentif intrinsic ( situasi yang mempunyai hubungan fungsional dengan tugas dan tujuan ) dan insentif ekstrinsik ( obyek atau situasi yang tidak mempunyai hubingan fungsional dengan tugas ). Situasi yang menimbulkan insentif intrinsic misalnya pengenalan hasil belajar, persaingan sehat, dan kompetisi. Sedangkan situasi yang menimbulkan insentif ekstrinsik misalnya hukuman, ancaman yang membuat takut, dan ganjaran. Dari keduanya, yang lebih memajukan belajar individu adalah insentif yang intrinsic. Insentif ini akan menentukan tingkat motivasi belajar individu di masa – masa mendatang. Sebagai seorang pendidik, guru berperan dalam menciptakan kondisi belajar yang insentif ini, agar proses belajar dapat berlangsung optimal.

Selain factor – factor stimuli dan metode belajar, factor- factor individual sangat besar pengaruhnya terhadap belajar seseorang. Adapun factor – factor individual itu menyangkut antara lain kematangan, factor usia kronologis, perbedaan jenis kelamin, pengalaman sebelumnya, kapasitas mental, kondisi kesehatan jasmani dan rohani serta motivasi.

Kematangan dicapai oleh individu dari proses pertumbuhan fisiologisnya. Kematangan memberikan kondisi di mana fungsi – fungsi fisiologis termasuk system saraf dan fungsi otak menjadi berkembang. Perkembangan tersebut akan menumbuhkan kapasitas mental seseorang dan mempengaruhi hal belajar seseorang itu.

Faktor lainnya adalah usia kronologis. Pertambahan usia selalu dibarengi dengan proses pertumbuhan dan perkembangan. Semakin tua usia individu, semakin meningkat pula kematangan berbagai fungsi fisiologisnya. Anak yang lebih tua biasanya lebih sabar, sanggup melaksanakan tugas – tugas yang lebih berat, mampu mengarahkan energi dan perhatiannya dalam waktu yang lebih lama, memiliki koordinasi gerak kebiasaan kerja dan ingatan yang lebih baik dari pada anak yang lebih muda. Usia kronologis merupakan factor penentu tingkat kemampuan belajar individu.

Hingga saat ini belum ada petunjuk yang menguatkan tentang adanya perbedaan skil, sikap – sikap, minat, temperamen, bakat, dan pola – pola tingkah laku sebagai akibat dari perbedaan jenis kelamin. Perbedaan pola tingkah laku antara pria dan wanita hanyalah hasil dari perbedaan tradisi kehidupan, bukan semata – mata karena perbedaan jenis kelamin. Fakta membuktikan bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara pria dan wanita dalam hal intelegensi. Mungkin yang membedakan ialah dalam hal peranan dan perhatiannya terhadap suatu pekerjaan, dan ini pun akibat dari pengaruh kultural.

Lingkungan banyak memberikan pengalaman kepada individu. Pengalaman yang diperoleh individu ikut mempengaruhi belajar seseorang, terutama pada transfer belajarnya. Hal ini terbukti bahwa anak –anak yang berasal dari kelas – kelas social menengah dan tinggi mempunyai keuntungan dalam belajar verbal di sekolah sebagai hasil dari pengalaman sebelumnya.

Dalam tahap perkembangan tertentu, individu mempunyai kapasitas – kapasitas mental yang berkembang akibat dari pertumbuhan dan perkembangan fungsi fisiologis pada system saraf dan jaringan otak. Kapasitas – kapasitas seseorang dapat diukur dengan tes – tes intelegensi dan tes – tes bakat. Kapasitas adalah potensi untuk mempelajari serta mengembangkan berbagai keterampilan / kecakapan. Akibat dari hereditas dan lingkungan, berkembanglah kapasitas mental individu yang berupa intelegensi. Karena latar belakang hereditas dan lingkungan masing – masing individu berbeda, maka intelegensi masing – masing individu pun bervariasi. Intelegensi seseorang ikut menentukan prestasi belajar seseorang.

Orang yang belajar membutuhkan kondisi badan / jasmani yang sehat. Orang yang badannya sakit akibat penyakit – penyakit tertentu, cacat fisik atau kelelahan tidak akan dapat belajar dengan efektif. Karena itu, hasil belajar tidak memuaskan. Gangguan serta cacat mental pada seseorang juga sangat mengganggu belajar. Tidak mungkin orang dapat belajar dengan baik apabila ia sakit ingatan, sedih, frustasi, atau sedang putus asa.

Hal yang tidak kalah penting mendukung kegiatan belajar adalah motivasi. Motivasi penting bagi proses belajar karena motivasi menggerakkan organisme, mengarahkan tindakan, serta memilih tujuan belajar yang dirasa paling berguna bagi kehidupan individu. Jadi, motivasi merupakan dorongan, penggerak, atau pembangkit bagi terjadinya suatu tingkah laku. Pengalaman di masa lampau kerap kali menyebabkan seorang siswa merasa tidak senang dan takut akan kegagalan. Hal ini menyebabakan siswa selalu menghindari tugas – tugas yang dirasakannya akan menyebabkan kegagalan. Semua itu disebabkan adanya rasa takut yang mendominasi. Namun ada penawar yang sangat ampuh mengurangi rasa takut itu, yaitu motivasi. Jika motivasi untuk berhasil lebih kuat dari motivasi untuk tidak gagal, maka rasa takut itu akan hilang. Biasanya orang yang mempunyai motivasi untuk berhasil menyukai tantangan dalam mengerjakan sesuatu. Ia akan bekerja lebih keras dan segera memerinci kesulitan – kesulitan yang dihadapinya

Setelah mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar, tugas kita selanjutnya adalah menggunakan faktor – faktor tersebut untuk mengoptimalkan hasil belajar. Masing – masing individu harus mengetahui apa yang mereka sukai ketika belajar sehingga tidak terjadi kejenuhan. Dari kenyamanan inilah diharapkan akan terjadi proses belajar yang tidak hanya mengutamakan transfer ilmu saja sehingga diperoleh out put yang berkompeten.

kimia analitik

V.6. Melarutkan Cuplikan

Jika belum diketahui zat larut dalam air atau asam maka:

· 5-10 mg zat padat dihaluskan, selidiki kelariutannya dalam pelarut berikut menurut urutan :

1. air 4. Asam nitrat encer

2. HCl encer 5. Asam nitrat pekat

3. HCl pekat 6. Air raja

· Kelarutan mula – mula dalam keadaan dingin lalu dipanaskan

· Jika zat melarut dalam air segera menguji ion – ion logam

· Plarut HCl encer dan menghasilkan endapan mungkin terdiri dari logam golongan I. Disaring dan diselidiki

· HCl pekat sebagai pelarut, menguapkan hingga hampir kering tambah HCl, uapkan hingga volume kecil, encerkan dengan air

· Pelarut dengan air raja sama prosedurnya dengan HCl pekat

· Asam nitrat sering diabaikan sebagai pelarut karena kehadiran asam dengan konsentrasi besar menyebabkan endapan tak sempurna dan harus dihilangkan

Jikapelarut yang sesuai telah ditemukan :

· 0,5-1g zat padat diencerkan hingga volume 15-20ml

· Jika cuplikan mudah larut dalam air, larutan tak cocok untuk menguji anion, untuk uji anion dapat dipakai larutan airnya

· Jika cuplikan tak larut dalam air maka membuat ekstrak natrium karbonatnya

V.7. Menyelidiki Residu yang Larut

Sebagian residu tak larut tetap tertinggal atau seluruh cuplikan mungkin tak larut. Metode membuat zat menjadi larut untuk analisis secara sistemik :

1. Menghilangkan garam - garam timbel

1 gram zat tak larut ditambah 3ml larutan ammonium asetat 10M yang sedikit diasamkan dengan asetat, panaskan campuran, aduk hingga 70°C, saring dan cuci dengan 5ml air

2. Menghilangkan garam – garam perak

Panaskan zattak larut atau residu 1 ( jika garam – garam timbel ada ) dengan KSCN pekat. Jika melarut semua berarti hanya AgCl, AgBr, AgI dan AgCN yang ada. Encerkan filtrat, olah dengan H2S, saring endapan hitam ( Ag2S ), cuci, larutkan dalam asam nitrat encer panas, tambah HCl encer. Endapan putih AgCl menunjukan adanya perak

3. Peleburan dengan natrium karbonat

Residu yang bebas dari garam – garam timbel dan perak atau aslinya dicampur Na2CO3 anhidrat yang murn 5-6 kali berat zat uji. Panaskan di atas lembaran tipis / krus Pt hingga didapat leburan yang tenang. Dinginkan, ekstraksi leburan dengan seksama dengan mendidihkannya dengan air

4. Peleburan silisida

Tambahkan natrium atau kalium hidroksida pada krus perak. Selama leburan hidrogen yang dibebaskan menyala dan membentuk air, bergabung dengan oksigen di udara. Pada pengolahan leburan dengan air, silikat alkali yang larut akan diekstraksi.

Karborundum, bila dalam bentuk bubuk halus, mudah diuraikan dengan peleburan bersama kalium karbonat dalam krus platinum. Saat krus diangkat, nyala biru dari CO yang terbakar dapat terlihat.

SiC + 3K2CO3 → K2SiO3 + 2K2O + 4CO↑

metodologi Pengajaran

Metode Pembelajaran Inquiry, discovery

dan Konstruktivistik

Metode Pembelajaran Inquiry

Metode inquiry adalah metode yang mampu menggiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar. Inquiry menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar yang aktif. Metode inquiry salah satu strategi pembelajaran yang memungkinkan para peserta didik mendapatkan jawabannya sendiri. Metode pembelajaran ini dalam penyampaian bahan pelajarannya tak dalam bentuk final dan tak langsung. Artinya, dalam metode inquiry peserta didik sendiri diberi peluang untuk mencari, meneliti dan memecahkan jawaban, menggunakan teknik pemecahan masalah.

Pendekatan dan strategi pembelajaran saat ini diharapkan lebih menekankan agar siswa dipandang sebagai subjek belajar. Konsep ini bertujuan hasil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah , siswa ‘bekerja’ dan mengalami, bukan berupa transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Salah satunya, adalah metode inquiry. Pendidikan tak lagi berpusat pada lembaga atau pengajar yang hanya mencetak lulusan kurang berkualitas, tapi berpusat pada peserta didik.

Kendatipun metode ini berpusat pada kegiatan peserta didik, namun guru tetap memegang peranan penting sebagai pembuat desain pengalaman belajar. Guru berkewajiban menggiring peserta didik untuk melakukan kegiatan. Kadang kala guru perlu memberikan penjelasan, melontarkan pertanyaan, memberikan komentar, dan saran kepada peserta didik. Guru berkewajiban memberikan kemudahan belajar melalui penciptaan iklim yang kondusif, dengan menggunakan fasilitas media dan materi pembelajaran yang bervariasi.

Teknik inquiry ini memiliki keunggulan yaitu :

  • Dapat membentuk dan mengembangkan konsep dasar kepada siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar ide-ide dengan lebih baik.
  • Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.
  • mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersifat jujur, obyektif, dan terbuka.
  • Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesanya sendiri.
  • Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik.
  • Situasi pembelajaran lebih menggairahkan.
  • Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.
  • Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.
  • Menghindarkan diri dari cara belajar tradisional.
  • Dapat memberikan waktu kepada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.

Metode Pembelajaran Discovery

Metode discovery adalah metode yang berangkat dari suatu pandangan bahwa peserta didik sebagai subyek di samping sebagai obyek pembelajaran. Mereka memiliki kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Di sini terjadi proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksud dengan proses mental adalah mengamati, mencerna, mengerti, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan.

Motode discovery merupakan salah satu metode mengajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode discovery, hal itu disebabkan karena metode discovery ini :

  • Merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif
  • Dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa
  • Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain
  • Dengan menggunakan strategi penemuan, anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkannya sendiri
  • Dengan metode penemuan ini juga, anak belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan probela yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat.

Kelebihan metode discovery adalah :

  • Mampu membantu siswa untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan , serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif/pengenalan siswa
  • Dapat membangkitkan kegairahan belajar para siswa
  • Mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang dan maju sesuai dengan kemampuannya masing-masing
  • Mampu mengarahkan cara siswa belajar , sehingga lebih memiliki motivasi yang kuat untuk belajar giat
  • Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri
  • Berpusat pada siswa tiadk pada guru

Kelemahan metode penemuan ini adalah :

  • Siswa harus ada kesiapan dankematangan metal
  • Bila kelas terlalu besar penggunaan tehnik ini kurang berhasil
  • Bagi guru dan siswa yangsudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan metode ini
  • Proses mental terlalu mementingkan proses pengertian saja , kurangmemperhatikan perkembangan / pembentukan sikap dan keterampilann nagi siswa
  • Tidak memberikan kesempatan untuk berpikir secara kreatif

Pembelajaran Konstruktivistik

Pembentukan pengetahuan secara konstruktivistik memandang subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.

Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.

Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar.

Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu :

  • Mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan
  • Mengutamakan proses
  • Menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman social
  • Pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman
  • Aspek-aspek Pembelajaran Konstruktivistik yaitu adaptasi (adaptation), konsep pada lingkungan (the concept of envieronmet), dan pembentukan makna (the construction of meaning). Dari ketiga aspek tersebut oleh J. Piaget bermakna yaitu adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.

Rancangan Pembelajaran Konstruktivistik

Berdasarkan teori J. Peaget dan Vygotsky yang telah dikemukakan di atas maka pembelajaran dapat dirancang/didesain model pembelajaran konstruktivis di kelas sebagai berikut

  1. Identifikasi prior knowledge dan miskonsepsi. Identifikasi awal terhadap gagasan intuitif yang mereka miliki terhadap lingkungannya dijaring untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan akan munculnya miskonsepsi yang menghinggapi struktur kognitif siswa. Identifikasi ini dilakukan dengan tes awal, interview
  2. Penyusunan program pembelajaran. Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan pelajaran.
  3. Orientasi dan elicitasi, situasi pembelajaran yang kondusif dan mengasyikkan sangatlah perlu diciptakan pada awal-awal pembelajaran untuk membangkitkan minat mereka terhadap topic yang akan dibahas.
  4. Refleksi. Dalam tahap ini, berbagai macam gagasan-gagasan yang bersifat miskonsepsi yang muncul pada tahap orientasi dan elicitasi direflesikan dengan miskonsepsi yang telah dijaring pada tahap awal. Miskonsepsi ini diklasifikasi berdasarkan tingkat kesalahan dan kekonsistenannya untuk memudahkan merestrukturisasikannya.
  5. Resrtukturisasi ide
  6. Aplikasi
  7. Review

Senyawa Organohalogen

TIPE SENYAWA ORGANOHALOGEN

Senyawa yang hanya mengandung C, H, dan suatu halogen ( X ) dapat dikategorikan menjadi :

1. Alkil halida ( RX )

Alkil halida merupakan senyawa hidrokarbon yang mana salah satu atom hidrogennya digantikan oleh atom halogen ( halogen yang terikat pada atom karbon yang berikatan tunggal ).

Contoh : CH3I, CH3CH2Cl

2. Aril halida ( ArX )

Aril halide adalah halogen yang terikat pada atom karbon dari cincin aromatik.

Contoh : Bromobenzena

3. Halida vinilik

Halida Vinilik adalah halogen yang terikat pada atom karbon ( C ) yang berikatan rangkap.

Contoh : CH2=CHCl ( kloro etena )

Alkil = R, Aril = Ar, Halida = X

Ikatan zigma karbon – halogen

Ikatan ini terbentuk oleh silang mendidihnya suatu orbital atom halogen dan orbital hibrida atom karbon

Atom- atom halogen ( F, Cl, Br ) bersifat elektronegatif terhadap karbon. Sementara keelektronegatifan Iod dekat dengan Karbon sehingga ion Iod mudah dipolarisasi yang mengakibatkan alkil halida bersifat polar.

SIFAT FISIS ALKANA TERHALOGENASIKAN

Jika atom halogen disubstitusi ke molekul hidrokarbon maka bobot molekul akan naik karena atom halogen mempunyai berat yang lebih besar dibanding atom karbon ataupun atom hydrogen ( penyusun senyawa hidrokarbon) dan polarizabilitas bertambah ( yang menyebebkan tarikan van der waals meningkat ) sehingga titik didih suatu deret senyawa naik.

Contoh : CH3Cl2Cl234

Hidrokarbon terhalogenasikan tidak membentuk ikatan hidrogen dan tidak larut dalam air. Kebanyakan senyawa organik lebih ringan dari air, namun pelarut berhalogen ( seperti (CHCl3, CH2Cl2 ) lebih berat dari air.

TATA NAMA & KLASIFIKASI ALKIL HALIDA

Pemberian nama alkil halida dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

  • Sistem IUPAC

Alkil halida diberi nama dengan awalan halo-

Contoh : CH3Cl = Cloro Metana

CCl4 = Tetra Cloro Metana

  • Gugus-fungsional trivial

Pemberian nama alkil halida diawali dengan gugus alkil, diikuti nama halidanya.

Tipe alkil halida berhasarkan struktur bagian alkilnya dapat dibagi menjadi empat yaitu metil, primer, sekunder, tersier.

* Metil Halida ( RX ) : satu hidrogen dari metana digantikan oleh sebuah halogen.

Contoh : CH3F, CH3Cl, CH3Br

* Alkil Halida Primer (1°) ( RCH2X ) : punya 1 gugus alkil terikat pada karbon ujung.

Contoh : CH3-CH2Br

* Alkil Halida Sekunder (2°) ( R2CHX ) : punya dua gugus alkil terikat pada karbon ujung.

Contoh : CH3CH2-CH-Cl

I

CH3

* Alkil Halida Tersier (3°) (R3CX ) : punya 3 gugus alkil terikat pada karbon ujung.

Contoh : CH3

I

CH3--C--Cl

I

CH3

Karbon Ujung

Karbon ujung adalah karbon yang terikat pada halogen.

Contoh : (CH3)3C - CH2Cl

C : karbon ujung

REAKSI SUBSTITUSI

Reaksi substitusi adalah reaksi dimana atom, ion, atau gugus menggantikan atom, ion, atau gugus lainnya. Karbon ujung suatu alkil halida bermuatan positif parsial

Contoh : .. ∂+ .. ∂- .. ..

HO:ˉ + CH3CH2 - :Br: → CH3CH2-OH+:Br:ˉ

¨ ¨ ¨ ¨

Halida disebut gugus pergi ( leaving group ). Halida merupakan gugus pergi yang baik karena ion – ion ini merupakan basa yang sangat lemah. Beda halnya dengan OH¯ yang merupakan basa kuat, sehingga OH¯ bukan gugus pergi yang baik.

Fˉ basa yang lebih kuat dari ion halida lainnya, ikatan C-F lebih kuat C-X, sehingga F bukan gugus pergi yang baik. Jadi halida yang merupakan gugus pergi yang baik adalah Cl, Br, dan I.

Nukleofil ( Nuˉ )

Nukleofil merupakan spesi yang menyerang suatu alkil halida dalam reaksi substitusi atau spesi yang tertarik ke pusat positif ( basa lewis ).

Contoh : OHˉ, CH3Oˉ, H2O, CH3OH, CH3NH3

Kebanyakan nukleofil adalah anion, namun beberapa molekul polar yang netral dapat bertindak sebagai nukleofil. Molekul netral tersebut mempunyai pasangan elektron menyendiri yang digunakan untuk membentuk ikatan sigma.

Elektrofil ( E+)

Elektrofil merupakan spesi apa saja yang tertarik ke suatu pusat negatif ( asam lewis )

Contoh : H+, ZnCl2

REAKSI ELIMINASI

..

:Br: H

I I .. .. ..

CH3—CH—CH2 + :OH → CH3CH=CH2 +H2O + :Br:ˉ

¨ ¨ ¨

2 – bromopropana propena

ŀReaksi eliminasi dapat diperoleh dengan mereaksikan alkil halida dengan basa kuat. Pada reaksi ini terjadi kehilangan atom – atom atau ion – ion dari dalam strukturnya. Produk reaksi eliminasi adalah alkena. Pada reaksi tersebut, unsur H dan X keluar dari alkil halida ( reaksi dehidrohalogenasi ).

games


Teori Belajar


Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Bagi kebanyakan siswa, bahkan mahasiswa, belajar hanyalah sebatas menggarisbawahi buku pelajaran dengan stabillo sambil mendengarkan alunan musik. Atau, bila menghadapi ujian akhir semester esok hari, maka belajar adalah minum kopi sebanyak mungkin atau minum pil anti ngantuk dan menghabiskan sepanjang malam untuk berusaha menjejali otaknya dengan semua bahan ujian yang semestinya dipelajari selama satu semester. Oleh karena itu, SKS sering kali dipelesetkan menjadi “ Sistem Kebut Semalam.“

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.

Oleh karena itu, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya para guru. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal – hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.

  1. Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk menjawab keresahan akan arti belajar yang sebenarnya, sehingga tidak lagi terjadi kesalahan persepsi yang berkembang dalam masyarakat khususnya peserta didik. Makalah ini juga akan dijelaskan faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi proses belajar dan pengaruh motivasi dalam belajar.

Pembahasan

Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata – mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta – fakta yang tersaji dalam bentuk informasi ( materi pelajaran ). Orang yang beranggapan demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika mereka telah mampu menyebutkan kembali secara lisan materi yang diajarkan oleh guru. Jika konsep ini digunakan, maka akan menjadikan diri seseorang itu ibarat botol kosong. Di sini dapat dibayangkan bahwa informasi yang dapat masuk hanya sebatas daya tampungnya saja.

Di sisi lain ada yang beranggapan bahwa belajar adalah proses yang terjadi dalam otak manusia. Saraf dan sel – sel otak yang bekerja mengumpulkan semua yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan lainnya, lantas disusun oleh otak sebagai hasil belajar. Itulah yang menyebabkan orang tidak bisa belajar jika fungsi otaknya terganggu.

Kalau kita bertanya kepada orang tentang pengertian belajar, maka akan diperoleh jawaban yang bermacam – macam. Perbedaan pendapat orang tentang arti belajar itu disebabkan karena adanya kenyataan bahwa perbuatan belajar itu sendiri bermacam – macam. Dengan kenyataan ini, terdapat banyak definisi tentang belajar.

Belajar secara sederhana dikaitkan sebagai proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu yang terjadi dalam jangka waktu tertentu. Perubahan yang terjadi harus secara relative bersifat menetap ( permanen ) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang saat ini nampak ( immediate behavior ) tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi di masa mendatang ( potensial behavior ). Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa perubahan – perubahan tersebut terjadi karena pengalaman. Jadi, belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif tetap sebagai hasil adanya pengalaman. Di sini tidak termasuk perubahan perilaku yang diakibatkan oleh kerusakan atau cacat fisik, penyakit, obat – obatan , atau perubahan karena proses pematangan.

Pengertian belajar memang selalu berkaitan dengan perubahan, baik yang meliputi keseluruhan tingkah laku individu maupun yang hanya terjadi pada beberapa aspek dari kepribadian individu. Perubahan ini dengan sendirinya dialami tiap – tiap manusia dan hanya sekali sejak dilahirkan. Sejak saat itu, terjadi perubahan – perubahan dalam arti perkembangan melalui fase – fasenya. Dan karena itu pula sejak saat itu berlangsung proses – proses belajar.

Belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Belajar membantu manusia menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungannya. Dengan adanya proses belajar inilah manusia bertahan hidup ( survived ).

Belajar dan berfikir merupakan dua proses yang tidak dapat dipisahkan. Meskipun demikian, keduanya merupakan proses – proses yang berbeda. Belajar adalah suatu proses – proses yang berbeda. Belajar adalah suatu proses terjadinya perubahan perilaku, tetapi berfikir tidak selalu menghasilkan perubahan tingkah laku.

Berpikir merupakan suatu proses mental yang tidak kasat mata. Proses ini hanya dapat diamati dari perilaku yang nampak. Dengan kata lain proses berfikir hanya dapat disimpulkan dari perilaku yang diperkirakan diarahkan oleh pikiran sebagai perilaku yang terorganisasi, bukan perilaku yang terjadi secara sembarangan. Berfikir tidak selalu memecahkan masalah, tetapi juga untuk membentuk suatu konsep tertentu, atau menimbulkan ide – ide kreatif. Bila pengertian – pengertian yang diperoleh dari proses berfikir dapat mengakibetkan perubahan perilaku yang permanen, maka proses berfikir tersebut menimbulkan proses belajar.

Belajar berbeda dengan menghafal. Menghafal hanya merupakan sebagian dari kegiatan belajar secara keseluruhan. Persamaan keduanya yaitu menyebabkan perubahan dalam diri individu. Dalam menghafal, aspek perubahannya terbatas dalam kemampuan menyimpan dan memproduksikan tanggapan. Adapun dalam belajar, perubahan itu tidak saja dalam hal kemampuan tersebut, namun juga meliputi perubahan tingkah laku lainnya, seperti sikap, pengertian, skills, dan sebagainya. Dengan demikian, belajar akan berhasil dengan baik jika disertai kemampuan menghafal.

Belajar adalah key term ( istilah kunci ) yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan. Untuk mencapai hasil belajar yang ideal, kemampuan para pendidik ( guru ) dalam membimbing belajar muridnya amat dituntut. Jika guru dalam keadaan siap dan memiliki profesiensi ( kemampuan tinggi ) dalam menunaikan kewajibannya, harapan tercipta sumber daya manusia yang berkualitas sudah barang tentu akan tercapai.

Dalam belajar, kerap kali kita jumpai hal –hal yang mengganggu dan mendukung proses belajar. Gangguan dan dukungan ini akan mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Untuk itu, kita wajib mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi belajar agar cita – cita pendidikan dapat tercapai. Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi belajar, dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu :

  1. Faktor – faktor stimuli belajar
  2. Faktor – faktor metode belajar
  3. Faktor – faktor individual

Faktor stimuli belajar yang dimaksud adalah segala hal di luar individu yang merangsang individu itu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar. Stimuli dalam hal ini mencakup materiil, penegasan, serta suasana lingkungan eksternal yang harus diterima atau dipelajari oleh si pelajar. Beberapa hal yang berhubungan dengan faktor stimuli adalah panjangnya bahan pelajaran, kesulitan bahan pelajaran, berartinya bahan pelajaran, berat ringannya tugas, dan suasana lingkungan eksternal.

Panjangnya bahan pelajaran berhubungan dengan jumlah bahan pelajaran. Semakin panjang bahan pelajaran, semakin panjang pula waktu yang diperlukan oleh individu untuk mempelajarinya. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan dalam belajar dan kelelahan serta kejenuhan si pelajar dalam menghadapi atau mengerjakan bahan ajar yang terlalu banyak tersebut.

Kesulitan bahan pelajaran mempengaruhi kecepatan pelajar. Makin sulit suatu bahan pelajaran, makin lambat orang mempelajarinya. Sebaliknya, semakin mudah bahan pelajaran, makin cepatlah orang dalam mempelajarinya. Bahan yang sulit memerlukan aktivitas belajar yang lebih intensif, sedangkan bahan yang sederhana mengurangi intensitas belajar seseorang. Bahan yang berarti juga mempengaruhi belajar karena bahan yang berarti merupakan bahan yang dapat dikenali yang memungkinkan individu untuk belajar.

Berat ringannya tugas erat hubungannya dengan tingkat kemampuan individu. Tugas yang sama, kesukarannya berbeda bagi masing – masing individu. Hal ini disebabkan karena kapasitas intelektual serta pengalaman mereka tidak sama. Dapat pula berat ringannya suatu tugas berhubungan dengan usia individu. Ini berarti bahwa kematangan individu ikut menjadi indikator atas berat atau ringannya tugas bagi individu yang bersangkutan. Tugas – tugas yang terlalu ringan akan mengurangi tantangan belajar, sedangkan tugas – tugas yang terlalu berat membuat individu kapok ( jera ) untuk belajar.

Suasana lingkungan eksternal menyangkut banyak hal, antara lain cuaca, waktu, kondisi tempat ( kebersihan, ketenangan, kegaduhan ), penerangan ( berlampu, gelap, remang – remang ), dan sebagainya. Faktor – factor ini mempengaruhi sikap dan reaksi individu dalam aktivitas belajarnya, sebab individu yang belajar adalah interaksi dengan lingkunagnnya.

Metode mengajar yang digunakan oleh guru menimbulkan perbedaan yang berarti bagi proses belajar. Faktor – faktor metode belajar menyangkut beberapa hal diantaranya kegiatan berlatih atau praktek, overlearning dan drill, resitasi selama belajar, pengenalan tentang hasil belajar, belajar dengan keseluruhan dan dengan bagian – bagian, penggunaan modalitas indra, bimbingan dalam belajar, dan kondisi – kondisi insentif.

Berlatih dapat diberikan secara maraton ( non stop ) atau secara terdistribusi dengan selingan waktu istirahat. Latihan yang dilakukan secara maraton akan membosankan, sedangkan latihan yang terdistribuasi menjamin terpeliharanya stamina dan kegairahan belajar. Overlearning dan drill berguna untuk menetapkan reaksi dalam belajar. Overlearning digunakan bagi latihan keterampilan motorik sedangkan drill berlaku bagi kegiatan berlatih abstraksi misalnya berhitung. Faktor lain yang berhubungan dengan metode belajar adalah resitasi selama belajar yang cocok diterapkan pada belajar membaca atau hafalan. Kombinasi kegiatan membaca dengan resitasi sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menghafal bahan pelajaran.

Dalam proses belajar, individu sering mengabaikan tentang perkembangan hasil belajar selama ia belajar. Padahal, pengenalan seseorang terhadap hasil atau kemajuan belajarnya adalah penting, karena dengan mengetahui hasil – hasil yang sudah dicapai, seseorang akan lebih berusaha meningkatkan hasil belajar selanjutnya. Belajar yang dimulai dari keseluruhan ke bagian – bagian lebih menguntungkan dibandingkan dimulai dari bagian – bagian. Ini disebabkan dengan memulai dari keseluruhan, individu menemukan set yang tepat untuk belajar. Namun, metode ini mempunyai kelemahan yaitu membutuhkan banyak waktu dan pemikiran sebelum belajar yang sesungguhnya berlangsung.

Modalitas indra yang dipakai oleh masing – masing individu dalam belajar tidak sama. Sehubungan dengan itu, ada tiga impresi yang penting dalam belajar, yaitu oral, visual, dan kinestetik. Beberapa orang berhasil belajarnya dengan menekankan impresi oral. Dalam belajar, ia perlu membaca dan mengucapkan materi pelajaran dengan nyaring atau mendengarkan bacaan atau ucapan orang lain. Sementara ada beberapa orang belajar dengan menekankan impresi visual, dimana dalam belajarnya ia harus lebih banyak menggunakan fungsi indra penglihatan. Begitu pula ada beberapa orang yang belajar dengan menekankan pada impresi kinestetik dengan banyak menggunakan fungsi motorik. Di samping itu, ada pula yang belajar dengan menggunakan kombinasi impresi indra. Dengan modalitas indra inilah kita dapat menyesuaikan metode belajar yang sesuai dengan diri kita sehingga dapat diperoleh hasil belajar yang diharapkan.

Bimbingan dalam belajar yang diberikan kepada si pelajar dapat menimbulkan ketergantungan. Bimbingan dapat diberikan dalam batas – batas yang diperlukan oleh individu. Hal yang penting yaitu pemberian kecakapan pada individu sehingga yang bersangkutan dapat melaksanakan tugas – tugas yang dibebankan dengan sedikit saja bantuan dari pihak lain.

Dalam proses belajar, kondisi belajar yang insentif juga harus diperhatikan. Kondisi – kondisi insentif adalah objek atau situasi eksternal yang dapat memenuhi motif individu. Insentif adalah bukan tujuan melainkan alat untuk mencapai tujuan. Insentif dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu insentif intrinsic ( situasi yang mempunyai hubungan fungsional dengan tugas dan tujuan ) dan insentif ekstrinsik ( obyek atau situasi yang tidak mempunyai hubingan fungsional dengan tugas ). Situasi yang menimbulkan insentif intrinsic misalnya pengenalan hasil belajar, persaingan sehat, dan kompetisi. Sedangkan situasi yang menimbulkan insentif ekstrinsik misalnya hukuman, ancaman yang membuat takut, dan ganjaran. Dari keduanya, yang lebih memajukan belajar individu adalah insentif yang intrinsic. Insentif ini akan menentukan tingkat motivasi belajar individu di masa – masa mendatang. Sebagai seorang pendidik, guru berperan dalam menciptakan kondisi belajar yang insentif ini, agar proses belajar dapat berlangsung optimal.

Selain factor – factor stimuli dan metode belajar, factor- factor individual sangat besar pengaruhnya terhadap belajar seseorang. Adapun factor – factor individual itu menyangkut antara lain kematangan, factor usia kronologis, perbedaan jenis kelamin, pengalaman sebelumnya, kapasitas mental, kondisi kesehatan jasmani dan rohani serta motivasi.

Kematangan dicapai oleh individu dari proses pertumbuhan fisiologisnya. Kematangan memberikan kondisi di mana fungsi – fungsi fisiologis termasuk system saraf dan fungsi otak menjadi berkembang. Perkembangan tersebut akan menumbuhkan kapasitas mental seseorang dan mempengaruhi hal belajar seseorang itu.

Faktor lainnya adalah usia kronologis. Pertambahan usia selalu dibarengi dengan proses pertumbuhan dan perkembangan. Semakin tua usia individu, semakin meningkat pula kematangan berbagai fungsi fisiologisnya. Anak yang lebih tua biasanya lebih sabar, sanggup melaksanakan tugas – tugas yang lebih berat, mampu mengarahkan energi dan perhatiannya dalam waktu yang lebih lama, memiliki koordinasi gerak kebiasaan kerja dan ingatan yang lebih baik dari pada anak yang lebih muda. Usia kronologis merupakan factor penentu tingkat kemampuan belajar individu.

Hingga saat ini belum ada petunjuk yang menguatkan tentang adanya perbedaan skil, sikap – sikap, minat, temperamen, bakat, dan pola – pola tingkah laku sebagai akibat dari perbedaan jenis kelamin. Perbedaan pola tingkah laku antara pria dan wanita hanyalah hasil dari perbedaan tradisi kehidupan, bukan semata – mata karena perbedaan jenis kelamin. Fakta membuktikan bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara pria dan wanita dalam hal intelegensi. Mungkin yang membedakan ialah dalam hal peranan dan perhatiannya terhadap suatu pekerjaan, dan ini pun akibat dari pengaruh kultural.

Lingkungan banyak memberikan pengalaman kepada individu. Pengalaman yang diperoleh individu ikut mempengaruhi belajar seseorang, terutama pada transfer belajarnya. Hal ini terbukti bahwa anak –anak yang berasal dari kelas – kelas social menengah dan tinggi mempunyai keuntungan dalam belajar verbal di sekolah sebagai hasil dari pengalaman sebelumnya.

Dalam tahap perkembangan tertentu, individu mempunyai kapasitas – kapasitas mental yang berkembang akibat dari pertumbuhan dan perkembangan fungsi fisiologis pada system saraf dan jaringan otak. Kapasitas – kapasitas seseorang dapat diukur dengan tes – tes intelegensi dan tes – tes bakat. Kapasitas adalah potensi untuk mempelajari serta mengembangkan berbagai keterampilan / kecakapan. Akibat dari hereditas dan lingkungan, berkembanglah kapasitas mental individu yang berupa intelegensi. Karena latar belakang hereditas dan lingkungan masing – masing individu berbeda, maka intelegensi masing – masing individu pun bervariasi. Intelegensi seseorang ikut menentukan prestasi belajar seseorang.

Orang yang belajar membutuhkan kondisi badan / jasmani yang sehat. Orang yang badannya sakit akibat penyakit – penyakit tertentu, cacat fisik atau kelelahan tidak akan dapat belajar dengan efektif. Karena itu, hasil belajar tidak memuaskan. Gangguan serta cacat mental pada seseorang juga sangat mengganggu belajar. Tidak mungkin orang dapat belajar dengan baik apabila ia sakit ingatan, sedih, frustasi, atau sedang putus asa.

Hal yang tidak kalah penting mendukung kegiatan belajar adalah motivasi. Motivasi penting bagi proses belajar karena motivasi menggerakkan organisme, mengarahkan tindakan, serta memilih tujuan belajar yang dirasa paling berguna bagi kehidupan individu. Jadi, motivasi merupakan dorongan, penggerak, atau pembangkit bagi terjadinya suatu tingkah laku. Pengalaman di masa lampau kerap kali menyebabkan seorang siswa merasa tidak senang dan takut akan kegagalan. Hal ini menyebabakan siswa selalu menghindari tugas – tugas yang dirasakannya akan menyebabkan kegagalan. Semua itu disebabkan adanya rasa takut yang mendominasi. Namun ada penawar yang sangat ampuh mengurangi rasa takut itu, yaitu motivasi. Jika motivasi untuk berhasil lebih kuat dari motivasi untuk tidak gagal, maka rasa takut itu akan hilang. Biasanya orang yang mempunyai motivasi untuk berhasil menyukai tantangan dalam mengerjakan sesuatu. Ia akan bekerja lebih keras dan segera memerinci kesulitan – kesulitan yang dihadapinya

Setelah mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar, tugas kita selanjutnya adalah menggunakan faktor – faktor tersebut untuk mengoptimalkan hasil belajar. Masing – masing individu harus mengetahui apa yang mereka sukai ketika belajar sehingga tidak terjadi kejenuhan. Dari kenyamanan inilah diharapkan akan terjadi proses belajar yang tidak hanya mengutamakan transfer ilmu saja sehingga diperoleh out put yang berkompeten.

kimia analitik


V.6. Melarutkan Cuplikan

Jika belum diketahui zat larut dalam air atau asam maka:

· 5-10 mg zat padat dihaluskan, selidiki kelariutannya dalam pelarut berikut menurut urutan :

1. air 4. Asam nitrat encer

2. HCl encer 5. Asam nitrat pekat

3. HCl pekat 6. Air raja

· Kelarutan mula – mula dalam keadaan dingin lalu dipanaskan

· Jika zat melarut dalam air segera menguji ion – ion logam

· Plarut HCl encer dan menghasilkan endapan mungkin terdiri dari logam golongan I. Disaring dan diselidiki

· HCl pekat sebagai pelarut, menguapkan hingga hampir kering tambah HCl, uapkan hingga volume kecil, encerkan dengan air

· Pelarut dengan air raja sama prosedurnya dengan HCl pekat

· Asam nitrat sering diabaikan sebagai pelarut karena kehadiran asam dengan konsentrasi besar menyebabkan endapan tak sempurna dan harus dihilangkan

Jikapelarut yang sesuai telah ditemukan :

· 0,5-1g zat padat diencerkan hingga volume 15-20ml

· Jika cuplikan mudah larut dalam air, larutan tak cocok untuk menguji anion, untuk uji anion dapat dipakai larutan airnya

· Jika cuplikan tak larut dalam air maka membuat ekstrak natrium karbonatnya

V.7. Menyelidiki Residu yang Larut

Sebagian residu tak larut tetap tertinggal atau seluruh cuplikan mungkin tak larut. Metode membuat zat menjadi larut untuk analisis secara sistemik :

1. Menghilangkan garam - garam timbel

1 gram zat tak larut ditambah 3ml larutan ammonium asetat 10M yang sedikit diasamkan dengan asetat, panaskan campuran, aduk hingga 70°C, saring dan cuci dengan 5ml air

2. Menghilangkan garam – garam perak

Panaskan zattak larut atau residu 1 ( jika garam – garam timbel ada ) dengan KSCN pekat. Jika melarut semua berarti hanya AgCl, AgBr, AgI dan AgCN yang ada. Encerkan filtrat, olah dengan H2S, saring endapan hitam ( Ag2S ), cuci, larutkan dalam asam nitrat encer panas, tambah HCl encer. Endapan putih AgCl menunjukan adanya perak

3. Peleburan dengan natrium karbonat

Residu yang bebas dari garam – garam timbel dan perak atau aslinya dicampur Na2CO3 anhidrat yang murn 5-6 kali berat zat uji. Panaskan di atas lembaran tipis / krus Pt hingga didapat leburan yang tenang. Dinginkan, ekstraksi leburan dengan seksama dengan mendidihkannya dengan air

4. Peleburan silisida

Tambahkan natrium atau kalium hidroksida pada krus perak. Selama leburan hidrogen yang dibebaskan menyala dan membentuk air, bergabung dengan oksigen di udara. Pada pengolahan leburan dengan air, silikat alkali yang larut akan diekstraksi.

Karborundum, bila dalam bentuk bubuk halus, mudah diuraikan dengan peleburan bersama kalium karbonat dalam krus platinum. Saat krus diangkat, nyala biru dari CO yang terbakar dapat terlihat.

SiC + 3K2CO3 → K2SiO3 + 2K2O + 4CO↑

metodologi Pengajaran


Metode Pembelajaran Inquiry, discovery

dan Konstruktivistik

Metode Pembelajaran Inquiry

Metode inquiry adalah metode yang mampu menggiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar. Inquiry menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar yang aktif. Metode inquiry salah satu strategi pembelajaran yang memungkinkan para peserta didik mendapatkan jawabannya sendiri. Metode pembelajaran ini dalam penyampaian bahan pelajarannya tak dalam bentuk final dan tak langsung. Artinya, dalam metode inquiry peserta didik sendiri diberi peluang untuk mencari, meneliti dan memecahkan jawaban, menggunakan teknik pemecahan masalah.

Pendekatan dan strategi pembelajaran saat ini diharapkan lebih menekankan agar siswa dipandang sebagai subjek belajar. Konsep ini bertujuan hasil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah , siswa ‘bekerja’ dan mengalami, bukan berupa transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Salah satunya, adalah metode inquiry. Pendidikan tak lagi berpusat pada lembaga atau pengajar yang hanya mencetak lulusan kurang berkualitas, tapi berpusat pada peserta didik.

Kendatipun metode ini berpusat pada kegiatan peserta didik, namun guru tetap memegang peranan penting sebagai pembuat desain pengalaman belajar. Guru berkewajiban menggiring peserta didik untuk melakukan kegiatan. Kadang kala guru perlu memberikan penjelasan, melontarkan pertanyaan, memberikan komentar, dan saran kepada peserta didik. Guru berkewajiban memberikan kemudahan belajar melalui penciptaan iklim yang kondusif, dengan menggunakan fasilitas media dan materi pembelajaran yang bervariasi.

Teknik inquiry ini memiliki keunggulan yaitu :

  • Dapat membentuk dan mengembangkan konsep dasar kepada siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar ide-ide dengan lebih baik.
  • Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.
  • mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersifat jujur, obyektif, dan terbuka.
  • Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesanya sendiri.
  • Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik.
  • Situasi pembelajaran lebih menggairahkan.
  • Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.
  • Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.
  • Menghindarkan diri dari cara belajar tradisional.
  • Dapat memberikan waktu kepada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.

Metode Pembelajaran Discovery

Metode discovery adalah metode yang berangkat dari suatu pandangan bahwa peserta didik sebagai subyek di samping sebagai obyek pembelajaran. Mereka memiliki kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Di sini terjadi proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksud dengan proses mental adalah mengamati, mencerna, mengerti, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan.

Motode discovery merupakan salah satu metode mengajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode discovery, hal itu disebabkan karena metode discovery ini :

  • Merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif
  • Dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa
  • Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain
  • Dengan menggunakan strategi penemuan, anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkannya sendiri
  • Dengan metode penemuan ini juga, anak belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan probela yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat.

Kelebihan metode discovery adalah :

  • Mampu membantu siswa untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan , serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif/pengenalan siswa
  • Dapat membangkitkan kegairahan belajar para siswa
  • Mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang dan maju sesuai dengan kemampuannya masing-masing
  • Mampu mengarahkan cara siswa belajar , sehingga lebih memiliki motivasi yang kuat untuk belajar giat
  • Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri
  • Berpusat pada siswa tiadk pada guru

Kelemahan metode penemuan ini adalah :

  • Siswa harus ada kesiapan dankematangan metal
  • Bila kelas terlalu besar penggunaan tehnik ini kurang berhasil
  • Bagi guru dan siswa yangsudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan metode ini
  • Proses mental terlalu mementingkan proses pengertian saja , kurangmemperhatikan perkembangan / pembentukan sikap dan keterampilann nagi siswa
  • Tidak memberikan kesempatan untuk berpikir secara kreatif

Pembelajaran Konstruktivistik

Pembentukan pengetahuan secara konstruktivistik memandang subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.

Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.

Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar.

Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu :

  • Mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan
  • Mengutamakan proses
  • Menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman social
  • Pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman
  • Aspek-aspek Pembelajaran Konstruktivistik yaitu adaptasi (adaptation), konsep pada lingkungan (the concept of envieronmet), dan pembentukan makna (the construction of meaning). Dari ketiga aspek tersebut oleh J. Piaget bermakna yaitu adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.

Rancangan Pembelajaran Konstruktivistik

Berdasarkan teori J. Peaget dan Vygotsky yang telah dikemukakan di atas maka pembelajaran dapat dirancang/didesain model pembelajaran konstruktivis di kelas sebagai berikut

  1. Identifikasi prior knowledge dan miskonsepsi. Identifikasi awal terhadap gagasan intuitif yang mereka miliki terhadap lingkungannya dijaring untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan akan munculnya miskonsepsi yang menghinggapi struktur kognitif siswa. Identifikasi ini dilakukan dengan tes awal, interview
  2. Penyusunan program pembelajaran. Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan pelajaran.
  3. Orientasi dan elicitasi, situasi pembelajaran yang kondusif dan mengasyikkan sangatlah perlu diciptakan pada awal-awal pembelajaran untuk membangkitkan minat mereka terhadap topic yang akan dibahas.
  4. Refleksi. Dalam tahap ini, berbagai macam gagasan-gagasan yang bersifat miskonsepsi yang muncul pada tahap orientasi dan elicitasi direflesikan dengan miskonsepsi yang telah dijaring pada tahap awal. Miskonsepsi ini diklasifikasi berdasarkan tingkat kesalahan dan kekonsistenannya untuk memudahkan merestrukturisasikannya.
  5. Resrtukturisasi ide
  6. Aplikasi
  7. Review

Senyawa Organohalogen


TIPE SENYAWA ORGANOHALOGEN

Senyawa yang hanya mengandung C, H, dan suatu halogen ( X ) dapat dikategorikan menjadi :

1. Alkil halida ( RX )

Alkil halida merupakan senyawa hidrokarbon yang mana salah satu atom hidrogennya digantikan oleh atom halogen ( halogen yang terikat pada atom karbon yang berikatan tunggal ).

Contoh : CH3I, CH3CH2Cl

2. Aril halida ( ArX )

Aril halide adalah halogen yang terikat pada atom karbon dari cincin aromatik.

Contoh : Bromobenzena

3. Halida vinilik

Halida Vinilik adalah halogen yang terikat pada atom karbon ( C ) yang berikatan rangkap.

Contoh : CH2=CHCl ( kloro etena )

Alkil = R, Aril = Ar, Halida = X

Ikatan zigma karbon – halogen

Ikatan ini terbentuk oleh silang mendidihnya suatu orbital atom halogen dan orbital hibrida atom karbon

Atom- atom halogen ( F, Cl, Br ) bersifat elektronegatif terhadap karbon. Sementara keelektronegatifan Iod dekat dengan Karbon sehingga ion Iod mudah dipolarisasi yang mengakibatkan alkil halida bersifat polar.

SIFAT FISIS ALKANA TERHALOGENASIKAN

Jika atom halogen disubstitusi ke molekul hidrokarbon maka bobot molekul akan naik karena atom halogen mempunyai berat yang lebih besar dibanding atom karbon ataupun atom hydrogen ( penyusun senyawa hidrokarbon) dan polarizabilitas bertambah ( yang menyebebkan tarikan van der waals meningkat ) sehingga titik didih suatu deret senyawa naik.

Contoh : CH3Cl2Cl234

Hidrokarbon terhalogenasikan tidak membentuk ikatan hidrogen dan tidak larut dalam air. Kebanyakan senyawa organik lebih ringan dari air, namun pelarut berhalogen ( seperti (CHCl3, CH2Cl2 ) lebih berat dari air.

TATA NAMA & KLASIFIKASI ALKIL HALIDA

Pemberian nama alkil halida dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

  • Sistem IUPAC

Alkil halida diberi nama dengan awalan halo-

Contoh : CH3Cl = Cloro Metana

CCl4 = Tetra Cloro Metana

  • Gugus-fungsional trivial

Pemberian nama alkil halida diawali dengan gugus alkil, diikuti nama halidanya.

Tipe alkil halida berhasarkan struktur bagian alkilnya dapat dibagi menjadi empat yaitu metil, primer, sekunder, tersier.

* Metil Halida ( RX ) : satu hidrogen dari metana digantikan oleh sebuah halogen.

Contoh : CH3F, CH3Cl, CH3Br

* Alkil Halida Primer (1°) ( RCH2X ) : punya 1 gugus alkil terikat pada karbon ujung.

Contoh : CH3-CH2Br

* Alkil Halida Sekunder (2°) ( R2CHX ) : punya dua gugus alkil terikat pada karbon ujung.

Contoh : CH3CH2-CH-Cl

I

CH3

* Alkil Halida Tersier (3°) (R3CX ) : punya 3 gugus alkil terikat pada karbon ujung.

Contoh : CH3

I

CH3--C--Cl

I

CH3

Karbon Ujung

Karbon ujung adalah karbon yang terikat pada halogen.

Contoh : (CH3)3C - CH2Cl

C : karbon ujung

REAKSI SUBSTITUSI

Reaksi substitusi adalah reaksi dimana atom, ion, atau gugus menggantikan atom, ion, atau gugus lainnya. Karbon ujung suatu alkil halida bermuatan positif parsial

Contoh : .. ∂+ .. ∂- .. ..

HO:ˉ + CH3CH2 - :Br: → CH3CH2-OH+:Br:ˉ

¨ ¨ ¨ ¨

Halida disebut gugus pergi ( leaving group ). Halida merupakan gugus pergi yang baik karena ion – ion ini merupakan basa yang sangat lemah. Beda halnya dengan OH¯ yang merupakan basa kuat, sehingga OH¯ bukan gugus pergi yang baik.

Fˉ basa yang lebih kuat dari ion halida lainnya, ikatan C-F lebih kuat C-X, sehingga F bukan gugus pergi yang baik. Jadi halida yang merupakan gugus pergi yang baik adalah Cl, Br, dan I.

Nukleofil ( Nuˉ )

Nukleofil merupakan spesi yang menyerang suatu alkil halida dalam reaksi substitusi atau spesi yang tertarik ke pusat positif ( basa lewis ).

Contoh : OHˉ, CH3Oˉ, H2O, CH3OH, CH3NH3

Kebanyakan nukleofil adalah anion, namun beberapa molekul polar yang netral dapat bertindak sebagai nukleofil. Molekul netral tersebut mempunyai pasangan elektron menyendiri yang digunakan untuk membentuk ikatan sigma.

Elektrofil ( E+)

Elektrofil merupakan spesi apa saja yang tertarik ke suatu pusat negatif ( asam lewis )

Contoh : H+, ZnCl2

REAKSI ELIMINASI

..

:Br: H

I I .. .. ..

CH3—CH—CH2 + :OH → CH3CH=CH2 +H2O + :Br:ˉ

¨ ¨ ¨

2 – bromopropana propena

ŀReaksi eliminasi dapat diperoleh dengan mereaksikan alkil halida dengan basa kuat. Pada reaksi ini terjadi kehilangan atom – atom atau ion – ion dari dalam strukturnya. Produk reaksi eliminasi adalah alkena. Pada reaksi tersebut, unsur H dan X keluar dari alkil halida ( reaksi dehidrohalogenasi ).

games